Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Cara Mudah Mengolah Daging Kambing

Artikel ini menarik, jadi saya copas ke sini.
Alamat aslinya: http://id.she.yahoo.com/cara-mudah-mengolah-daging-kambing-123000129.html



Ghiboo.com - Perayaan Idul Adha atau qurban sudah di depan mata. Biasanya di hari istimewa ini umat Muslim merayakan dengan mengurbankan daging kambing atau sapi.

Biasanya ibu-ibu akan kesulitan mengolah daging kambing, karena selain dagingnya yang sedikit alot juga mengandung bau prengus yang tidak enak.

Tidak usah khawatir, Chef Deden Gumilar, pakar kuliner tradisional akan memberikan beberapa tip dalam mengolah daging kambing, berikut ini:
1. Hindari mencuci daging dan mengolahnya secara langsung setelah disembelih karena akan menimbulkan bau prengus yang tajam.
2. Untuk daging kambing yang akan langsung diolah, cara tradisional yang terbukti ampuh membuat daging empuk dengan membungkus daging dengan daun pepaya atau membalurinya dengan jus atau parutan nanas.
3. Sedangkan untuk daging yang masih menempel pada tulang, lakukan pencucian daging dengan merebus hingga mendidih, beserta lengkuas, jahe, daun salam atau daun jeruk, dan batang sereh.
4. Gunakan api sedang agar olahan daging kambing empuk dan bumbu meresap. Untuk masakan kambing yang berkuah, Chef Deden menyarankan agar daging dimasukkan ke dalam wadah setelah bumbu ditumis. Lalu olah sampai matang sehingga bumbu lebih meresap dan daging empuk. Jika dibuat untuk sate maka lumuri dengan bumbu dan diamkan beberapa saat.

Menurut Chef Deden, mengolah daging kambing pada dasarnya sama dengan mengolah daging lainnya. Tapi harus diawali dengan pemilihan daging mentah yang segar.

"Jika prosesnya diikuti, maka mengolah daging kambing sebenarnya tidak sulit dan sangat mudah. Semoga di hari Idul Adha ini, sajian daging kambing di rumah Anda bisa lebih nikmat," harap Chef Deden.

Bakmi Godog Pak Pele

Saya jarang bepergian ke luar kota dalam rangka tugas. Di antara yang jarang itu, kali ini saya kebagian harus ke Yogyakarta. Apa yang dilakukan di luar tugas? Tentu seperti yang lainnya, yaitu mencoba kuliner "khas" atau spesial yang ada di kota tujuan. Kuliner apa yang khas Yogya? Tidak sulit ditebak, yaitu GUDEG yang disantap secara lesehan (duduk beralas tikar di lantai).

Tetapi teman-teman saya ternyata tidak mengajak saya makan Gudeg, malah mengajak makan mi godog! Apa istimewanya makan mi? Jauh-jauh ke Yogya hanya makan mi?

Mi godog yang dimaksud berada di sekitar alun-alun utara Kraton Yogyakarta. Bukan restoran besar yang mewah, tetapi warung tenda di pinggir jalan! Penerangan di sekitar itu juga tidak terang, dan kami kebagian tempat lesehan di tempat parkir. Ya ternyata memang cukup banyak juga penikmat mi ini.

Setelah menunggu cukup lama, ditemani pengamen khas Yogya yang berkelompok dan membawa peralatan gitar dan bas yang besar, akhirnya datang lah sajian mi itu. Sederhana banget! Hanya disajikan dengan sebuah piring porselen biasa. Tanpa nasi (karena tidak pesan?) dan hidangan lain, hanya acar dan cabe.


Rsanya? Terus terang, akhirnya saya mengakui, rasa bakmi godog ini memang cukup istimewa. Tidak sekadar rasa mi biasa, apalagi rasa mi instan. Setelah saya perhatikan dengan seksama, rasa istimewanya itu karena menggunakan ayam kampung (daging ayamnya cukup banyak) dan pakai telor. Seorang teman mencoba menambahkan faktor pendukung rasa itu, yaitu: menggunakan kaldu ayam kampung, dan dimasak satu per satu di atas tungku berbahan bakar arang!


Bakmi digodog di atas tungku arang
 
(Sayang saya hanya mengambil gambar dengan HP Nokia C2-03)