Tampilkan postingan dengan label Bima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bima. Tampilkan semua postingan

Melahirkan BimaCenter Kembali

Bener-bener BimaCenter.com dilahirkan kembali. Saya terpaksa mengerjakannya mulai dari awal lagi. Hhh! Tapi apa boleh buat. Risiko nitip content di orang, ya kalau raib... kita tinggal mengenangnya...

Dua hari ini (Sabtu-Minggu) saya mengoprek situs BimaCenter.com, mulai dari disain layout hingga membuat posting info tentang Bima. Yah untunglah (selalu ada untung) banyak terbantu oleh Google, dan postingan teman-teman blogger Mbojo. Copas, tentu saja :D

Semoga saja ada manfaatnya!

Bima "Membara"

Ket: tulisan ini sebenarnya saya buat untuk BimaCenter.com, tapi begitu mau diposting -eh- site BimaCenter.com unaccessible! (Foto-foto diambil dari berbagai sumber via Google, merupakan hak pemiliknya masing-masing. Jika keberatan dimuat di sini harap email ke haer@bimacenter.com).

Sejak ‘pendudukan’ pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, NTB oleh pengunjuk rasa yang menamakan diri Front Reformasi Anti Tambang (FRAT), Senin 19 Desember 2011, Bima menjadi buah berita baik di televisi, koran, maupun Internet. Berita tentang ‘Bima’ ini semakin gempar ketika Polisi akhirnya melakukan membubarkan secara paksa, Sabtu 24 Desember 2011, yang memakan korban jiwa 2 orang dan korban luka-luka belasan orang. Judul berita pun akhirnya menjadi “Bima Membara”.

Dari pemberitaan hanya sedikit informasi yang menyebutkan lokasi peristiwa secara detil. Umumnya orang luar hanya mengetahui bahwa peristiwa bentrokan antara Polisi dan warga masyarakat tersebut terjadi di Bima. Walaupun disebutkan juga bahwa peristiwa terjadi di pelabuhan Sape, namun penyebutan lokasi ini tidak cukup mengurangi kesan bahwa peristiwa berdarah yang memakan korban tersebut terjadi di ‘seluruh’ Bima.

Perlu diinformasikan di sini bahwa Pelabuhan Sape berada di ujung timur wilayah KABUPATEN BIMA, terletak di kecamatan Sape. Bima sendiri terdiri dari Kota (madya) Bima dan Kabupaten Bima. Wilayah yang ‘bergolak’ adalah dua kecamatan di bagian timur kabupaten Bima, yaitu kecamatan Sape dan kecamatan Lambu.

Mengenai peristiwanya sendiri, sebenarnya tidak berdiri sendiri dan pada kurun 19-24 Desember 2011 saja (pendudukan pelabuhan Sape oleh pengunjuk rasa), namun juga terjadi beberapa persitiwa sebelum itu.
Dari banyak berita yang beredar, mungkin bisa disarikan sebagai berikut:
  • Masyarakat melakukan reaksi penolakan atau menuntut Bupati Bima (Bp. Ferry Zulkarnain) agar membatalkan atau mencabut izin penambangan emas yang diberikan kepada PT Sumber Mineral Nusantara (PT SMN), yang memiliki konsesi lahan seluas 24.980 ha, karena dianggap bisa merusak lingkungan hidup dan pencaharaian masyarakat. Ijin ini diberikan oleh Bupati pada April 2010.

    (Adapun perusahaan penambangan lain yang juga disebut-sebut adalah PT Indo Mineral Persada (PT IMP) yang memperoleh ijin untuk menambang pada lahan seluas 14.318 ha di kecamatan Prado yang terletak di sebelah selatan kabupaten Bima).
  • Sepanjang tahun 2010-2011 telah berkali-kali dilakukan ‘perundingan’, namun dari pihak Pemda menyatakan tidak bisa mencabut ijin yang sudah diberikan karena akan dianggap melanggar undang-undang yang berlaku (UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara).
  • Senin, 19 Desember 2011, masyarakat yang mengatasnamakan Front Reformasi Anti Tambang (FRAT) menggelar unjuk rasa dengan “menduduki”  pelabuhan Sape, dan melarang semua kegiatan di pelabuhan. Tuntutannya ada 2, yaitu: Cabut ijin PT MSN, dan bebaskan AS, seorang tersangka pembakaran kantor camat Lambu pada tanggal 10 Maret 2011.

    Aksi ini otomatis melumpuhkan pelabuhan Sape dan memutus jalur transportasi darat/laut ke propinsi NTT.
  • Aparat kepolisian yang dipimpin langsung oleh Kapolda NTB melakukan pendekatan secara persuasif kepada pengunjuk rasa, dan pada hari Jumat tanggal 23 Desember 2011 khabarnya Bupati mengeluarkan SK penundaan operasional penambangan kepada PT PSN.
  • Karena warga pengunjuk rasa tidak bergeming karena tuntutannya tidak terpenuhi, maka pada hari Sabtu 24 Desember 2011, jam 7 pagi, pihak kepolisian melakukan pembubaran secara paksa. Menurut berita yang beredar, jam 8 pagi dimulai penembakan ke atas, dan jam 9 pagi dimulai penembakan ke arah pengunjuk rasa sehingga memakan korban dua orang meninggal dunia dan belasan lainnya luka-luka (dirawat di rumah sakit Bima, 2 di antaranya menderita luka tembak yang sangat serius).

    Kedua orang yang meninggal adalah: Arif Rahman (18 tahun) dan Syaiful (17 tahun). Keduanya tewas terkena tembakan.

    Pada saat itu tertangkap  54 orang demonstran, 47 orang di antaranya ditetapkan sebagai tersangka.

    Menurut berbagai pihak, upaya pembubaran paksa ini lebih mirip sebagai penyerangan oleh polisi kepada masyarakat, karena dilakukan oleh ratusan anggota Brimob yang bersenjata laras panjang. Namun menurut polisi, tindakan represif itu terpaksa dilakukan karena mendapat perlawanan dari para demonstran. Diungkapkan bahwa dari para demonstran disita senjata berupa: 10 parang, 4 sabit, 1 tombak, 1 bom molotov, dan 2 botol bensin.

    Menurut Kapolda NTB, Brigjen Polisi Arif Wachyunadi, tindakan tegas dilakukan karena aksi warga yang memblokade pelabuhan dinilai sudah mengganggu.

    Terungkap bahwa provokator yang tertangkap adalah H (yang merupakan DPO Polda NTB), A alias O, dan Sy.







  • Pasca pembubaran secara paksa, ratusan massa demonstran melampiaskan amarah dengan membakar kantor Kepala Desa Lambu, rumah Kepala Desa Lambu, Polsek Lambu, perumahan Polsek, rumah Kapolsek, UPTD Kehutanan, KUA, Kantor Dikpora, perumahan warga, 3 rumah BTN, dan 29 rumah masyarakat dirusak.



    • Tindakan penyerangan warga oleh polisi di Bima mendapat banyak kecaman. Aksi demo merebak dimana-mana, seperti yang dilakukan oleh mahasiswa di Mataram, Jakarta, dan Makassar.













      Bima Is My Hometown

      Kampung halaman...Bima, Nusa Tenggara Barat, adalah kota kelahiran saya. Konon kata HAMKA, kalau mau belajar Islam ya di Aceh atau di Bima.

      Memang, Bima adalah sebuah kerajaan/kesultanan Islam pada jaman dulu (jaman Belanda). Rajanya adalah keluarga raja-raja Gowa di Sulawesi Selatan, bersaudara pula dengan raja-raja Islam lain seperti Sumbawa, Dompu, dan Sanggar (nah kerajaan yang ini lenyap oleh letusan gunung Tambora).

      Masyarakat Bima hampir semuanya beragama Islam, hanya sedikit yang non-Islam, terutama pendatang-pendatang etnis Cina yang Kristen dan sedikit masyarakat asli yang terkena misionaris Katholik. Agama lain hampir tidak ada.

      Sewaktu kecil, kami selalu belajar ngaji (membaca Al-Quran). Umumnya kami belajar di rumah sendiri dibimbing oleh orang tua (yang rata-rata memang bisa baca Quran). Ada juga yang belajar di rumah guru ngaji. Nah, ternyata --saya sadari kemudian-- inilah yang membuat perbedaan, bahwa kami yang belajar sendiri di rumah, ngajinya kurang bagus. Kami (terutama di keluarga saya) tidak diajari Ilmu Tajwid, hanya cukup bisa membaca Quran tidak salah, atau bisa lancar.

      Namun banyak juga teman-teman yang dibekali orang tua atau guru ngajinya dengan cara membaca Al-Quran secara lebih baik. Tidak sedikit yang menjadi juara MTQ, bahkan ada yang berhasil menjadi juara peringkat nasional maupun internasional (nah ini saya kurang tahu siapanya). Ada teman saya (anak Bima) ketika saya tinggal di Yogya dulu, dia bahkan bisa mendapat nafkah dari membaca Al-Quran, diundang orang-orang yang punya hajatan atau acara.

      Di Jakarta dsk, saat kini, saya suka mengambil kesimpulan bahwa orang Bima itu mudah ditemukan. Datang saja ke Masjid atau Musholla, lalu tanyakan dimana ada orang Bima. Insya Allah, kalau bukan menjadi pengurus Masjid atau Musholla tersebut, orang Bima sering ikut menjadi ustadz atau imam, atau terlibat dalam kegiatan-kegiatan pengajian.

      Profesi orang Bima lainnya yang paling umum adalah menjadi Guru. Rata-rata teman/tetangga yang saya kenal mengetahui ada orang Bima yang menjadi guru di sekolahnya dulu, atau menjadi guru ngaji.

      Belakangan ini banyak juga anak Bima yang berprofesi di bidang IT (termasuk saya hehehe). Namun ada juga yang berprofesi "dagang keliling", keluar masuk kampung/daerah/kota orang menawarkan produk --yang saya tahu-- seperti minyak lawang dan minyak kayu putih. Tetapi mereka ini, setahu saya, juga pintar-pintar ngaji dan selalu menjadi seorang muslim.

      That is, Bima itu dikenal dengan keislamannya, dan profesi guru bagi anak Bima yang di rantau.

      Padahal Bima juga diidentikkan dengan "madu" dan "susu kuda liar". Bima juga identik dengan "keras" (orangnya suka/cepat tersinggung dan cenderung untuk berantem.. hehe.. saya juga memiliki sifat itu.. namun berusaha untuk ditekan habis... malu :)

      Well, Bima sebagai daerah sebenarnya -dalam pandangan banyak pihak- tidaklah termasuk daerah yang cukup membanggakan secara ekonomi maupun potensi alam. Masyarakat Bima -di Bima- cenderung hidup dalam kesahajaan -bukan kemakmuran. Hanya sebagian kecil masyarakat yang telah mengangkat derajat kesejahteraannya ke tingkat sejahtera. Masih banyak yang tergolong tidak sejahtera, hidup apa adanya, dan tidak berusaha untuk mengejar kemakmuran. Orang Bima cenderung tidak ambisius, sederhana, dan memandang kesederhanaan sebagai hal lumrah.

      Alam di Bima sama saja dengan kebanyakan daerah lain di Indonesia, atau lebih tepatnya di luar Jawa-Bali (kedua pulau ini nyata lebih subur). Bima terletak di pinggir laut, namun dikelilingi oleh gunung. Jadi antara gunung dan laut. Gunung, atau bukit-bukit, cenderung tandus/gersang. Hutannya bukanlah penghasil kayu atau rotan (atau hasil hutan lainnya seperti di Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan). Tanah di gunung lebih banyak dimanfaatkan untuk menanam kedelai dan jagung. sementara tanah sawah tergolong tadah hujan, sehingga frekuensi panen padi tidak sering.

      Kehidupan masyarakat nelayan juga tidak terlalu baik. Hasil menangkap ikan cuma sekadarnya saja, hanya cukup buat hidup sederhana/apa adanya, dan kalau bisa menyekolahkan anak dan naik Haji (nah ini yang istimewa bagi orang Bima, pandangannya terhadap menyekolahkan anak cukup bagus, mereka -kalau bisa- ingin atau suka/rela menghabiskan harta untuk menyekolahkan anak. Kalau ada harta lagi, mereka akan segera naik Haji, menyempurnakan rukun Islam).

      Kembali ke nelayan, laut di Bima berupa teluk, namun tidak cukup dalam sehingga kapal-kapal besar tidak bisa berlabuh (apalagi daya dukung pelabuhan tidak memadai). Ada juga laut utara dan laut selatan, namun tidak cukup dieksploitasi karena keterbatasan pengetahuan dan peralatan. Nelayannya tergolong tradisional, dan harta lautnya hanya dieksploit oleh orang-orang lain secara rakus dan tidak bertanggung jawab (misal pakai bom atau pukat harimau, tapi saya tidak punya fakta sendiri tentang ini, namun cukup sering terjadi kasus yang juga diberitakan di media dan internet, silahkan search sendiri ya...)

      Hmmm.. untuk saat ini saya sudahkan segitu dulu ya cerita tentang Bima... mudah2an ada kesempatan lagi untuk saya bercerita lebih banyak.