Bakmi Godog Pak Pele

Saya jarang bepergian ke luar kota dalam rangka tugas. Di antara yang jarang itu, kali ini saya kebagian harus ke Yogyakarta. Apa yang dilakukan di luar tugas? Tentu seperti yang lainnya, yaitu mencoba kuliner "khas" atau spesial yang ada di kota tujuan. Kuliner apa yang khas Yogya? Tidak sulit ditebak, yaitu GUDEG yang disantap secara lesehan (duduk beralas tikar di lantai).

Tetapi teman-teman saya ternyata tidak mengajak saya makan Gudeg, malah mengajak makan mi godog! Apa istimewanya makan mi? Jauh-jauh ke Yogya hanya makan mi?

Mi godog yang dimaksud berada di sekitar alun-alun utara Kraton Yogyakarta. Bukan restoran besar yang mewah, tetapi warung tenda di pinggir jalan! Penerangan di sekitar itu juga tidak terang, dan kami kebagian tempat lesehan di tempat parkir. Ya ternyata memang cukup banyak juga penikmat mi ini.

Setelah menunggu cukup lama, ditemani pengamen khas Yogya yang berkelompok dan membawa peralatan gitar dan bas yang besar, akhirnya datang lah sajian mi itu. Sederhana banget! Hanya disajikan dengan sebuah piring porselen biasa. Tanpa nasi (karena tidak pesan?) dan hidangan lain, hanya acar dan cabe.


Rsanya? Terus terang, akhirnya saya mengakui, rasa bakmi godog ini memang cukup istimewa. Tidak sekadar rasa mi biasa, apalagi rasa mi instan. Setelah saya perhatikan dengan seksama, rasa istimewanya itu karena menggunakan ayam kampung (daging ayamnya cukup banyak) dan pakai telor. Seorang teman mencoba menambahkan faktor pendukung rasa itu, yaitu: menggunakan kaldu ayam kampung, dan dimasak satu per satu di atas tungku berbahan bakar arang!


Bakmi digodog di atas tungku arang
 
(Sayang saya hanya mengambil gambar dengan HP Nokia C2-03)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar